Siapakah kamu?
Minggu ini kerasa berat banget buat aku, yah mungkin juga buat inner circle-ku. Kejadian yang mungkin hanya terjadi di sinetron atau film, sekarang aku alami sendiri. Tapi nggak akan aku ceritain di sini, terlalu kompleks dan membingungkan. Huff…agaknya aku terlalu sering menuliskan kata bingung di blog ini. Aku yang nggak pernah bisa mengerti semuanya. Di otakku hanya ada kata ‘kenapa?’ dan ‘kenapa?’. Seolah kata-kata itu merupakan senjata ampuh untuk mencari sebuah pembenaran dari sebuah kesalahan atau mungkin ribuan kesalahan.
Aku putus asa? YA! Jelas sekali aku putus asa, aku sudah mulai bosan dengan kehidupanku. Tetapi aku terlalu pengecut untuk mengakhiri semuanya. Karena aku takut menghadapi kematian, terlalu takut. Aku tahu bahwa akan ada banyak kontra tentang mengakhiri kematian, bahwa banyak orang berpendapat bahwa itu merupakan tindakan yang pengecut, lari dari sebuah masalah. Aku tidak menyangkal hal itu, tapi apakah kita sadar bahwa kita juga tidak dapat menerima kematian itu? Saat seseorang sudah tidak lagi bernyawa maka kita baru menyadari bahwa kita benar-benar kehilangan. Kehilangan seseorang yang semasa hidupnya hanya kita pandang dari pojok sudut mata kita. Terlalu egois untuk menjatuhkan statement pengecut, yang kita sendiri ikut andil dalam tindakannya.
Hari ini seorang temanku bertanya "Siapakah kamu?". Saat pertama kali yang terpikir olehku adalah tentang deskripsi diriku, nama, usia, dsb. Tapi ternyata itu salah, yang aku jawab bukan diskripsi tentang diriku, tapi merupakan sebuah data. Pertanyaan itu adalah sebuah essay dari sekian banyak multiple-choices yang ada. Aku mulai berpikir, "Aku siapa?". Sampai saat ini aku pun tidak tahu, siapa aku. Seseorang yang selalu bimbang? Mungkin. Seseorang yang selalu merasa tidak puas? Mungkin. Mungkin, dan selalu saja mungkin.
Jadi teringat tentang pendiskripsian seseorang. Bagaimana mungkin seseorang dapat mendiskripsikan orang lain jika dia sendiri tidak tahu tentang dirinya sendiri. Atau diskripsi yang absolut itu tidak pernah ada?
June 1st, 2007 at 4:00 am
…you’re not how much money you’ve got in the bank. You’re not your job. You’re not your family, and you’re not who you tell yourself…. You’re not your name…. You’re not your problems…. You’re not your age…. You are not your hopes.
- Chuck Palahniuk, Fight Club, Chapter 18 -
June 1st, 2007 at 9:38 pm
@jelek
trus opo mas????
hihhiihi…
June 4th, 2007 at 2:32 am
@’jelek
hidup bukan untuk dideskripsikan tetapi untuk di jalani. Dan hyper realita membuat kita dpt menghadapi realita.
Smoga ak masih punya ‘hyper realita’ itu …
June 5th, 2007 at 1:28 am
@Eross
Ross, wingi dosenku ngomong ngene. “aku bisa mengenal aku ketika semua yang kumiliki hilang.” istilahe semua-mua yang di belakang katanya bisa ditambahin “-ku” tu diilangin semua. karena itu cuman faktor aksiden - faktor tempelan…
nama-ku
rumah-ku
tubuh-ku
jasad-ku
suara-ku
status-ku
sandal-ku
rokok-ku
keakuan-ku
lha terus aku kiye sopo?
mumet….
@Chrisye
terus mumet ndhuk…
nonton dhewe ae film-e lah..
July 3rd, 2007 at 1:57 pm
….
aku
mati tak mau
hidup pun tak mampu
mengapa begini
….
mungkin itu kali ya ??
jalani aja dl like @ my blog “perjalanan”
July 4th, 2007 at 2:13 pm
ralat
bukan “perjalanan”, tapi “Harapan di Akhir Perjalanan”
July 10th, 2007 at 5:52 am
@thEOnly
heleh..makanya aku cari2 kok ga ada.