Kekaburanku

“Hei, aku di sini. Sadarkah kamu
bahwa aku ada di hadapanmu?” kataku.

“Aku masih bisa menatap setiap
lekuk wajahmu. Menemani setiap langkahmu. Aku nyata, bukan sekedar bayangan
yang akan hilang saat cahaya menerangimu.” Ku raih tangannya dan kugenggam, aku
menatap kedua buah bola matanya, mencari-cari setiap jawaban yang dapat kuperoleh
dari setiap kedipan. Tidak ada ,yang tersisa hanyalah kesedihan.

“Apakah kamu benar-benar ada?”jawabnya.

”Apakah kamu benar-benar nyata?
Aku sadar kamu ada di hadapanku, aku sadar raga-mu selalu disisiku.Tapi, kemana
jiwamu? Hanya kehampaan yang aku rasakan saat berada sisimu. Jiwamu teralu asik
bermain-main dengan pikiranmu. Saat ‘dia’
datang, kamu mulai menghapus aku dari sampingmu. Sedikit demi sedikit, jiwamu
mulai berlalu.” Butir-butir airmata mulai menetes, setiap ucapannya terisi
dengan kepedihan. Pegangan tangannya mulai terlepas dariku, sangat pelan.
Seolah keraguan mulai mengisi hatinya. Akupun mulai merenungkan setiap kalimat
yang terucap dari mulutnya.

“Apa iya?” pikirku, aku mencari
pembelaan atas sikapku sendiri. Pembenaran yang akupun tidak tahu apakah benar
atau salah. Kabur…semuanya menjadi kabur, aku tidak dapat mendefinisikan secara
tegas imprecision sikapku.

Saat aku sibuk terlarut dalam
kekaburanku tanpa aku sadari dia mulai menjauh, berjalan meninggalkanku.

-ini tulisan uda lama banget aku buat, tapi lupa terus posting-nya-

Leave a Reply